Menulis menggungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola deduktif dan induktif. B. KOMPETENSI DASAR Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif
Objekkajian tulisan ini hanya difokuskan pada analisis kesalahan berbahasa yaitu kesalahan penggunaan tanda baca dalam penulisan singkatan dan kesalahan penggunaan huruf kapital dalam penulisan akronim pada koran Kendari Pos edisi Jumat, 2 Maret 2012, khususnya pada kolom Berita Utama, Bisnis, Sportif, Advertorial, Ragam, Info Selatan dan Iklan.
Adabeberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menyikat gigi setiap hari. sebagian besar masyarakat pasti akan lebih memilih untuk menggunakan iklan pasta gigi yang ada di televisi dengan promosi untuk memperkuat mahkota gigi dan akar gigi. Blood Father adalah sebuah film kejahatan seru laga Prancis berbahasa Inggris tahun 2016
Sesuaidengan permasalahan yang di rumuskan, maka penelitian ini berfokus pada sikap, yaitu: 1. Membeli produk karena kemasannya menarik 2. Menjaga penampilan diri dan gengsi 3. Pertimbangan harga 4. Rasa percaya diri yang tinggi Sumber Data Dalam penelitian ini menggunakan informasi sebagai sumber memperoleh data untuk penulisan skripsi ini.
DalamIklan Bulan Januari 2017-Bulan April 2018. Mojokerto: Universitas Islam Majapahit Sinaga, Holmes Johansen. 2012. Analisis Isi Pesan Nilai Sosial Dalam Iklan Pepsodent Di Televisi. Medan: Universitas Sumatera Utara Syahbal, Wildan. 2013. Pesan Sosial Dalam Iklan (Analisis Isi Pesan Dalam Iklan M 150 Versi Hero
qqMk. ArticlePDF Available AbstractThe language error are often found in advertising slogan on television. The purpose of this study was to describe the meaning of Indonesian slogan and mistakes in advertisement of tea and coffee on television. The method used in this research is qualitative descriptive. Data sources in this study are words derived from the slogan of advertising in 2018 for tea and coffee drinks on INDOSIAR, RCTI, SCTV, MNC TV, ANTV, GLOBAL TV stations. Data collection techniques in this study are referenced and recorded. Data analysis in this study includes the interpretation of the meaning of the tea and coffee drink advertising slogan and the Indonesian language error contained in it. The results of this study are the meaning contained in the slogan of the advertisement of tea and coffee drinks on television showing that the advertising slogan makers display the superiority of their products in term of taste, product origin and health. Indonesian language error in the slogan of advertising for tea and coffee drinks on television include the use of foreign terms, the use of comma, elimination of conjunctions in clauses, improper use of prepositions, excessive use of elements, ambiguity of sentence, illogical sentence, non-parallel sequences, sentence that are not subject, words of affirmation, and influence of regional language. Keywords meaning, slogan, television, advertisement, language error MAKNA SLOGAN DAN KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA PADA IKLAN MINUMAN DI TELEVISI Abstrak Kesalahan berbahasa sering ditemukan dalam slogan iklan di televisi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan makna slogan dan kesalahan berbahasa Indonesia dalam slogan iklan minuman teh dan kopi di televisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata yang berasal dari slogan iklan minuman teh dan kopi di stasiun televisi INDOSIAR, RCTI, SCTV, MNC TV, ANTV dan GLOBAL TV tahun 2018. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah simak dan catat. Analisis data penelitian ini meliputi interpretasi makna slogan iklan minuman teh dan kopi, serta kesalahan berbahasa Indonesia yang ada di dalamnya. Hasil penelitian ini adalah makna yang terkandung dalam slogan iklan minuman teh dan kopi di televisi menunjukkan bahwa pembuat slogan iklan menampilkan keunggulan produknya dari sisi rasa, asal usul produk dan kesehatan. Kesalahan berbahasa Indonesia dalam slogan iklan minuman teh dan kopi di televisi meliputi penggunaan istilah asing, penggunaan tanda koma, penghilangan konjungsi pada anak kalimat, pemakaian preposisi yang tidak tepat, penggunaan unsur yang berlebihan, ambiguitas kalimat, kalimat yang tidak logis, urutan yang tidak paralel, kalimat tidak bersubjek, kata imbuhan, dan pengaruh bahasa daerah. Kata kunci makna, slogan, televisi, iklan, kesalahan berbahasa Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. A preview of the PDF is not available Sri HaryatiMalan LubisKhairil AnsariThis study aims to find out the developmentof brochure-based teaching materials on persuasive text in grade 7th object of this study is grade 7th students of Dwi Tunggal Tanjung Morawa. The result shows that The process of developing the development of brochure-based teaching materials on persuasive text material was carried out in three stages, namely the preliminary study phase, the initial product development and product testing. At the stage of the preliminary study an analysis of the needs of teachers and students was carried out. The results of the needs analysis obtained data that 100% of teachers and students of Junior High School Dwi Tunggal Tanjung Morawa need teaching materials in the Indonesian language learning companion. In the initial product development stage, product design and product validation were carried out to 2 material experts and 2 media design experts. After the validation process, the product is declared feasible for testing. In the third stage, product testing was carried out in three ways, namely individual trials, small group trials and limited field trials. Individual trials obtained an average percentage of with the category "Very good", the small group trial received an average percentage of with the category "Very Good". Limited field trials received an average percentage of with the category "Very Good". Based on these data, obtained appropriate teaching materials to be used by teachers and students in NariusTranslating of a text needs enough skill and knowledge about the topic that will be translated. The meaning including in various language sources, lexical meaning, grammatical meaning, contextual or situational meaning, textual meaning, sociocultural meaning and idiomatic meaning. If it is connected to advertisement, meaning that will be delivered to listener or reader are messages that will persuade the reader for acting. Advertisement language is simple but it has persuasive function. The various advertisement forms have specific challenge in translating, because audio advertisement is different from visual and audio visual. Key words/ phrases translating, advertisement, meaning, advertisement typesMeira Anggia PutriJapan is the land of industry which produces many kind of products. To market their product one of the effective ways is by using advertisement. Advertisement is something that we always see in our daily life. We can find it anywhere, at the billboard, television, magazine, newspaper, radio, etc. Since the objective of any type of advertising is to persuade the public to buy product or service, advertiser uses many ways to convey his product message, one of them is by using figurative language. Figurative language is language that is used in an exaggerated fashion to represent an idea. Figurative language in advertising is used to help the consumer picture himself benefiting from the product or service being mentioned. Based on Abrams theory, figurative language divided into two classes figures of thought and figures of speech. Figures of thought grouped into five, they are simile, metaphor, metonymy, synecdoche, and personification. Japanese advertisers often use this figures of thought to their ads. This paper discusses about figures of thought in Japanese ad copywriting. The purpose of this paper is to analyze the use of figures of thought in Japanese ad Copywriting for knowing the message it contains. Keywords Japanese advertising, copywriting, figurative language, figures of LoflandLyn H. LoflandManual para la investigación cualitativa en ciencias sociales, en el que se presentan -paso a paso- técnicas para recoger, enfocar y analizar datos Koherensi Mikro Pada Karya Ilmiah MahasiswaG L AndovitaH PujiatiA Dan RahmatAndovita, G. L., Pujiati, H. dan Rahmat A. Tingkat Koherensi Mikro Pada Karya Ilmiah Mahasiswa. Lingua Didaktika. Vol. 12 No. 1, hal. 45-58.Analisis Wacana Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana MediaA BadaraBadara, A. 2014. Analisis Wacana Teori, Metode, dan Penerapannya pada Wacana Media. Jakarta Relation dan Publik Relation dalam ManagementO U EffendyEffendy, O. U. 1986. Human Relation dan Publik Relation dalam Management. Bandung of Mass Communication, 5 th EditionD MelvinB SandraMelvin, D. dan Sandra, B. 1989. Theories of Mass Communication, 5 th Edition. New York-London Penelitian Kualitatif. Bandung PT Remaja RosdakaryaJ MoleongMoleong, J. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung PT Remaja Kesalahan Berbahasa Pada Penulisan Iklan Luar Ruang di Kota SurakartaS RatnaA DewiRatna, S. & Dewi, A. 2016. Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Penulisan Iklan Luar Ruang di Kota Surakarta. Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta. Vol. 2 No. 5, hal. 46 -68.Analisis Kesalahan BerbahasaN SetyawatiSetyawati, N. 2013. Analisis Kesalahan Berbahasa. Surakarta Yuma Pustaka.
Manusia dan bahasa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Manusia sebagai mahkluk sosial tidak dapat hidup sendiri tanpa ada manusia lain. Dalam hidupnya, manusia selalu membutuhkan manusia lain. Oleh sebab itu, manusia membutuhkan bahasa untuk menjalin komunikasi dengan manusia lain sehingga terpenuhi kewajiban moral manusia sebagai mahkluk sosial. Dalam hal ini, bahasa memainkan fungsinya sebagai alat komunikasi. Saat ini, berbagai media komunikasi berkembang sangat pesat. Salah satu medianya adalah melalui iklan di berbagai media. Meski dengan wujud yang berbeda, tetapi tetap saja bahasa menjadi hal utama dalam penyampaiannya. Iklan sendiri dapat dijumpai setiap saat dan di manapun manusia berada. Perkembangan media informatika semakin membuat itu menjadi lebih bervariasi. Hampir setiap hari manusia disajikan berbagai iklan baik itu di majalah, koran, televisi, radio, internet, bahkan di sepanjang jalan iklan dapat dijumpai. Iklan sendiri dianggap sebagai media yang cukup efektif dalam menyampaikan informasi kepada khalayak ramai. Monle Lee dan Carla Johnson mendefinisikan iklan sebagai sebuah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail pengeposan langsung, reklame luar ruang, atau kendaraan umum 20043. Iklan merupakan media komunikasi massa. Pemanfaatan bahasa dalam iklan disesuaikan dengan kebutuhan dan demi tercapainya maksud iklan itu sendiri. Secara khusus iklan di televisi lebih menekankan bahasa tutur dalam menyampaikan maksudnya kepada orang lain. Hal itu dapat diungkapkan oleh penutur dengan menggunakan kalimat imperatif, deklaratif, maupun introgatif dengan maksud tercapainya pesan kepada masyarakat. Menurut Rot Zoill melalui Rendra Widyatama 2005147 menjabarkan fungsi iklan dalam empat fungsi. Keempat fungsi tersebut akan dijabarkan sebagai berikut Iklan berfungsi untuk mempercepat berubahnya suatu kondisi dari keadaan yang semula tidak dapat mengambil keputusan menjadi dapat mengambil keputusan. Sebagai contoh adalah meningkatkan permintaan, menciptakan kesadaran dan pengetahuan tentang sebuah produk. Iklan berfungsi untuk membangkitkan khalayak sesuai pesan yang diiklankan. Hal ini meliputi daya tarik emosi, menyampaikan informasi tentang ciri suatu produk, dan membujuk konsumen untuk membeli. c. Fungsi Reinforcement meneguhkan sikap Iklan mampu meneguhkan keputusan yang telah diambil oleh khalayak. Iklan mampu mengingatkan dan semakin meneguhkan terhadap produk yang diiklankan. Iklan di televisi memiliki kecendrungan menggunakan tindak tutur lisan yang berbeda antara iklan satu dengan yang lain. Dengan kata lain, iklan di televisi cenderung menggunakan bahasa percakapan. Percakapan itu sangat membantu menjelaskan maksud percakapan sehingga kalimat yang digunakan kalimat efektif. Bahkan jenis iklan yang sama pun memiliki tindak tutur yang berbeda pula. Berbagai iklan yang ditayangkan di televisi memiliki keragaman demi menjaring konsumennya dengan pengemasan bahasa yang semenarik mungkin. Bahkan demi menjaring konsumen, setiap iklan menunjukkan keunggulan barang yang diiklankan. Selain itu, iklan kerap kali ditayangkan berulang kali sehingga akan semakin memberikan kesan yang dalam kepada konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Hal ini mempunyai maksud konsumen akan selalu ingat dengan tidak mempedulikan produk sejenis. Informasi iklan mempunyai empat unsur yang menjadi pembangun wacana iklan, yaitu pengiklan, barang atau jasa yang diiklankan, iklan, dan sasaran iklan. Termasuk di dalam unsur pengiklan adalah pihak yang punya produk barang jasa yang diiklankan dan biro jasa periklanan atau pembuat iklan. Masing-masing subunsur itu biasanya hadir dengan keperluannya masing-masing. Pemasang iklan hadir dengan keperluan agar produk, jasa, atau imbauan-imbauannya dapat sampai ke sasaran iklan secara efektif. Hal ini tidak berarti bahwa biro iklan tidak punya pengetahuan tentang konsumen bahkan ada biro iklan yang amat bertanggung jawab pada masyarakat sehingga berani menolak membuat iklan-iklan tertentu tetapi pengetahuannya tentang selera konsumen hanya merupakan faktor pendukung saja dalam memproduksi iklan. Iklan sendiri, baik iklan yang komersial, nonkomersial, maupun iklan korporasi, pada dasarnya adalah satu bentuk wacana direktif atau imperatif yang tertuang dalam bahasa audio, visual, dan verbal. Fungsi direktif dan imperatif iklan disampaikan melalui media suara audio, media gambar visual, dan media bahasa verbal. Bahasa yang digunakan di dalam iklan selalu memberi sugesti atau mengarahkan masyarakat agar mengkonsumsi atau melakukan aksi tertentu. Sebagai komunikasi yang efektif, iklan harus mampu membangun persepsi masyarakat konsumen menjadi seperti yang dikehendaki pemasang dan pembuat iklan, yaitu bahwa menggunakan barang dan jasa yang diiklankan atau melakukan aksi seperti yang dimbau dalam iklan akan mendatangkan sangat banyak manfaat kepada konsumen dan juga masyarakat secara umum. Bagian dalam iklan, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua bagian pokok, yaitu bagian deskripsi dan bagian direktif. Dalam iklan-iklan panjang, misalnya iklan dalam bentuk advertorial, bagian deskripsi lebih dominan daripada bagian direktifnya. Bahkan, bagian direktifnya sering juga ditiadakan. Iklan seperti itu umumnya ditujukan kepada konsumen yang telah mempunyai kematangan analisis sehingga makna imperatif dari iklan itu dapat dibangun sendiri dengan mengembangkan hubungan kausalitas dari fakta yang diuraikan dalam iklan. Dalam iklan-iklan pendek, biasanya bagian direktif menjadi lebih dominan kecuali jika makna direktifnya dapat dipahami secara mudah atau telah menjadi pemahaman bersama. Boleh dikatakan, semakin panjang iklan semakin dominan unsur deskriptifnya. Keberhasilan sebuah iklan diawali dengan keberhasilan seorang penulis naskah iklan copywriter. Seorang penulis naskah iklan dituntut punya kemahiran berbahasa yang memadai. Dengan modal kemahiran berbahasa yang memadai, penulis naskah iklan dapat memainkan bahasanya hingga memperoleh efek yang diinginkan. Dalam iklan Indonesia, kemahiran berbahasa Indonesia saja ternyata tidak cukup. Pemahaman atau penguasaan ragam bahasa bahkan juga berbagai bahasa daerah di Indonesia menjadi kemahiran penting juga bagi penulis naskah iklan Indonesia. Kadang-kadang ambiguitas yang dibangun dari keragaman bahasa, menjadi pengingat verbal yang baik. B. Ragam, Sifat, dan Prinsip Bahasa Jurnalistik Bahasa jurnalistik merupakan salah satu cabang ilmu jurnalistik. Jurnalistik adalah ilmu yang terus berkembang berdasarkan norma-norma yang ada. Di Indonesia, ilmu jurnalistik ini harus disesuaikan dengan falsafah Negara kesatuan republik Indonesia yaitu Pancasila Patmono, 19931. Ilmu jurnalistik mempunyai landasan yang kuat dan manfaat jelas yakni landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Sugono 2009 15 mengelompokkan ragam bahasa jurnalistik ke dalam ragam bahasa berdasarkan pokok persoalan. Perbedaaan setiap ragam ditandai dengan kata-kata yang khas digunakan untuk setiap ragam. Kata-kata seperti cetakan, tulisan, dan editor banyak digunakan dalam ragam jurnalistik. Ragam bahasa jurnalistik memiliki kaidah tersendiri yang membedakan dengan ragam lain. Menurut Anwar dalam Efendi, 200865 bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan walaupun dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa. Karakteristik bahasa jurnalistik dipengaruhi banyak hal yang terkait dengan penentuan masalah, jenis tulisan, pembagian tulisan, dan sumber. Leech mengemukakan empat prinsip retorika tekstual yang harus dimiliki agar bahasa jurnalistik mudah dipahami, keempat prinsip itu antara lain 1. Prinsip prosesibilitas menganjurkan agar teks dapat disajikan sedemikian rupa sehingga mudah dipahami pembaca. Dalam proses memahami pesan, penulis harus menentukan a bagaimana membagi pesa-pesan menjadi satuan; b bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa penting masing-masing satuan; c bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. 2. Prinsip kejelasan, yaitu agar teks mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar teks tidak ambigu. Teks yang tidak ambigu memudahkan pembaca untuk memahami. 3. Prinsip ekonomi, yakni teks harus ditulis sesingkat mungkin tanpa harus merusak pesan. 4. Prinsip ekspresivitas, prinsip ini menganjurkan agar teks dikontruksikan selaras dengan aspek-aspek pesan. Bahasa jurnalistik mempunyai sifat yang khas dan unik. sifat ini menjadi ciri khas dari bahasa jurnalistik walaupun menyalahi tata bahasa. Bahasa jurnalistik dikenal juga bahasa pers. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa kreatif dalam bahasa Indonesia. Bahasa sifat khas jurnalistik yakni sebagai berikut 1. Singkat, artinya bahasa harus menghindari penjelasan yang panjang dan tidak penting. 2. Padat, artinya bahasa jurnalistik harus mampu menyampaikan informasi secara lengkap. Menerapkan prinsip 5 W dan 1 H, membuang kata-kata mubazir, dan menerapkan prinsip ekonomi kata. 3. Sederhana, artinya bahasa jurnalistik sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. 4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik menyampaikan informasi secara langsung. 5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang hidup, tumbuh, dan berkembang. 6. Jelas, artinya informasi yang disampaikan dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum. C. Bahasa Iklan dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Iklan merupakan media promosi bagi kalangan yang ingin menginformasikan antara lain, barang ide, dan jasa. Untuk menyampaikan informasi atau pesan dalam iklan, digunakan bahasa. Penggunaan bahasa dalam iklan bertujuan untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar. Dengan demikian, pembuat semenarik mungkin sehingga tujuan atau fungsi persuasif dapat dicapai. Pada kesempatan ini akan dibahas bahasa iklan dari segi strukturnya. Struktur bahasa yang dibahas dikelompokkan berdasarkan tataran bahasa yakni; frase, klausa dan kalimat. Setiap tataran akan dibahas struktur dan maknanya. Dia samping itu, dibahas juga informasi dan maksud yang disampaikan oleh iklan. Teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah ini adalah menyangkut instruktur bahasa. Teori struktur bahasa yang digunakan antara lain, frase, klausa, dan kalimat. Bahasa dalam iklan dapat dijelaskan berdasarkan tataran bahasa yaitu frase, klausa, dan kalimat. Frase dalam teks iklan ada dua tipe yaitu frase endosentris dan eksosentris. Frase endosentris dapat dibedakan menjadi eksosntris. Frase endosentris dapat dibedakan menjadi endosentris yang koordinatif, endosentris yang atributif dan endosentris yang apositif. Selanjutnya frase eksosentris dapat dibedakan menjadi eksosentris yang direktif preposional, dan yang nondirektif. Klausa adalah teks iklan berdasarkan kategori, kata atau frase yang menduduki P ada dua jenis yaitu klausa verbal dan klausa nonverbal. Klausa verbal terdiri atas klausa transitif dan verbal intransitif. Sebaliknya, klausa nonverbal terdiri atas lima jenis yaitu, klausa adjektif, klausa nominal, klausa numeral, dan klausa depan. Kalimat dalam teks iklan berdasarkan jumlah klausa pembentukan kalimat terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Informasi yang disampaikan melalui teks iklan adalah membeikan penjelasan tentang barang yang dipromosikan. Sebaliknya, maksud yang disampaikan adalah pemujian dan pengajakan terhadap hal yang dipromosikan. D. Penyimpangan Bahasa Iklan dan Contoh Analisis Kesalahan Bahasa Iklan Terdapat beberapa penyimpangan bahasa iklan dari kaidah bahasa Indonesia baku, yakni 1. Penyimpangan Klerikal Ejaan dan Tanda baca Kesalahan ini hampir setiap kali dijumpai di dalam surat kabar, baik media cetak maupun media elektronik seperti iklan di televisi. Kesalahan ejaan juga terjadi dalam penulisan kata. Kesalahan tanda baca dapat dijumpai dalam penggunaan tanda titik ., tanda koma ,, tanda hubung -, dan lain-lain. Jika dilihat dari segi ejaan, bahasa iklan sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Namun, masih terdapat ejaan khas yang menimbulkan kesalahan. Penggunaan tanda titik . dan tanda koma , untuk kalimat deklaratif sering dilupakaan dalam iklan. Kalimat-kalimat iklan sering melupakan tanda titik sehingga menimbulkan kalimat dalam iklan seolah-olah sebuah judul karangan. Contoh kalimat iklan, antara lain v Lebih dari oli pelumas berteknologi iklan Oli Castrol di Trans 7 v Diputer, dijilat, dicelupin makan oreo iklan Oreo di Trans TV 2. Penyimpangan gramatikal yang terdiri atas Pemenggalan kata ketika ganti baris terkesan asal penggal saja. Kesalahan ini disebabkan pemenggalannya menggunakan program komputer berbahasa Inggris. Hal ini sebenarnya sudah bisa diantisipasi dengan program pemenggalan bahasa Indonesia. Contoh pemenggalan kata yang salah tersebut antara lain v Surya 12, taklukkan tantanganmu! iklan Surya 12 di RCTI v Awali dengan sikat gigi, tuntaskan dengan Listerine. iklan Listerine di Trans TV b. Penyimpangan Morfologis Penyimpangan ini sering ditemui dalam pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan. Begitu juga pada penggunaan frase atau kelompok kata. Kesalahan yang sering terjadi pada aspek morfologi adalah penggunaan afiksasi yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia. Kata-kata dalam bahasa Indonesia sering diberi afiksasi yang salah. Kesalahan ini dipandang sebagai hal yang wajar sehingga pembaca baca penikmat iklan menganggap sesuatu yang benar. Contoh kalimat iklan v Pembersih porselin, nggak bikin cape dech…..!!! iklan WPC di indosiar. v Alaminya bikin semua kebaikan. iklan The Gelas di RCTI Kesalahan berupa pemakaian tata bahasa dan sruktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan karena logika yang kurang bagus. Kesalahan dalam sintaksis terjadi karena logika yang kurang bagus. Kesalahan berupa tata bahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga menyalahkan pengertian. Contoh kalimat iklan v Tumbuh tuh ke atas, enggak ke samping iklan Cerebrovit di RCTI v Nyaman kapan aja! iklan Laurier di Trans 7 Kesalahan atau penyimpangan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan atau meminimalkan dampak buruk pemberitaan. Kadang kala bahasa iklan mengangkat diksi yang berbaur kekerasan dan menimbulkan suatu pertikaian antar pihak karena bahasa yang digunakan sangat menyinggung pribadi tertentu. Kesalahan pada aspek semantik terjadi karena penggunaan prinsip kesopanan atau lebih meminimalkan dampak buruk penyajiaan iklan. Kesopanan yang digunakan menyebabkan terjadi pemilihan kata-kata yang kurang cocok. Contoh kalimat Iklan v Energen untuk menang tiap hari.iklan Energen di Trans TV v Rinso cair, menghilangkan noda 2X lebih efektif. iklan Rinso di Global TV 4. Penyimpangan Aspek Kewacanaan Penyimpangan bahasa iklan dari aspek kewacanaan dilihat dari makna bahasa yang berkaitan dengan aktivitas dan sistem-sistem di luar bahasa. Bahasa iklan merupakan teks wacana dari bentuk pemakaian bahasa yang diatur oleh sistem sosial budaya. Analisis fungsional menekankan pada makna sosial dan makna budaya. Pemakaian bahasa dalam iklan dengan makna yang terselubung berarti memberikan informasi yang tidak akurat, tidak disampaikan secara terbuka tetapi dibungkus oleh tuturan yang diperhalus, diajarkan atau dipositifkan. Jika dihubungkan dengan peristiwa tutur maka bahasa iklan seharusnya mampu mewujudkan tiga unsur peristiwa tutur, yaitu a. Field yaitu berhubungan dengan apa yang sering terjadi pada bidang tertentu b. Tenor yaitu berkaitan dengan partisipan yang tersangkut dalam interaksi verbal c. Mode yaitu berkaitan dengan pemilihan bentuk bahasa yang harus digunakan dalam bentuk interaksi. Contoh kalimat iklan yang menyimpang dari aspek kewacanaannya, antara lain v Molto ultra wanginya lebih lama dan tak terkalahkan. iklan molto ultra di SCTV v Jupiter ZR, yang lain ketinggalan. iklan motor Jupiter ZR di SCTV 5. Peminjaman Istilah-istilah atau Perkataan-perkataan Asing yang Populer di Masyarakat Penggunaan istilah-istilah asing banyak dijumpai dalam media massa padahal pengganti istilah asing sudah diserap dalam istilah bahasa Indonesia. Contohnya saja dari aspek kosa katanya. Kosa kata yang digunakan dalam iklan banyak mengunakan bahasa asing dan bahasa daerah. Penggunaan kata tersebut seharusnya mengikuti aturan tata bahasa Indonesia. Penggunaan kata asing dan daerah seharusnya dimiringkan tetapi di dalam bahasa iklan tidak ditulis miring. Kesalahan dalam bahasa iklan pada umum terjadi pada aspek kosa kata. Contoh kalimat iklan tersebut, yaitu v Suzuki way of life!! iklan Suzuki di RCTI Sonice, enak bro!!iklan Sonice di TRANS TV
ArticlePDF Available AbstractThis study discusses the analysis of pronunciation errors in talk shows that occur in several television stations in Indonesia. The data collected for analysis was to see whether the standard spoken language used in talk shows or not when Speaking in talk shows and the errors found in their talk shows were constructed by their language standards. This research is a phonetic study of Indonesian sounds and pronunciation only. The theoretical framework used in this study is based on error analysis theory such as Corder, Selinker and Richards. It is also based on structural linguistic theories such as those elaborated by Pike and those put forward by Kridalaksana in analyzing sound errors in Indonesian. The design of the research method used in this study is in accordance with the error analysis in analyzing the error data collected from the talk show audience survey at each television station in Indonesia. This research was conducted to analyze the errors of vowels, diphtongs, and consonants. This investigation shows that the errors found in the data are as follows inter-language errors such as hypercorrection to take advantage of the use of standard languages caused by mother tongues such as Javanese, Batak, and Slang. Abstrak Penelitian ini membahas tentang analisis kesalahan pengucapan pada talkshow yang terjadi di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Data yang dianalisis merupakan data yang digunakan untuk mengetahui apakah bahasa lisan standar digunakan dalam acara bincang-bincang atau tidak dan apakah kesalahan yang ditemukan dalam acara bincang-bincang dipengaruhi oleh bahasa standar yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi fonetik tentang bunyi dan pengucapan bahasa Indonesia. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada teori analisis kesalahan seperti Corder, Selinker, dan Richards. Hal ini juga didasarkan pada teori-teori linguistik struktural seperti yang dielaborasi oleh Pike dan yang dikemukakan oleh Kridalaksana dalam menganalisis kesalahan bunyi bahasa Indonesia. Rancangan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan analisis kesalahan dalam menganalisis data kesalahan yang dikumpulkan dari survei penonton talk show di setiap stasiun televisi di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesalahan bunyi vokal, diftong, dan konsonan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan pada data adalah sebagai berikut kesalahan antarbahasa seperti hypercorrection untuk menghindari penggunaan bahasa standar yang disebabkan oleh bahasa ibu seperti bahasa Jawa, Batak, dan bahasa gaul. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Analisis Kesalahan Pengucapan pada Program.... 178 ANALISIS KESALAHAN PENGUCAPAN PADA PROGRAM TALK SHOW DI TELEVISI INDONESIA Error Analysis Spelling Talkshow Program In Television Indonesia Emmy Erwina Universitas Harapan Medan, Medan, Indonesia emmyerwina8 Abstrak Penelitian ini membahas tentang analisis kesalahan pengucapan pada talkshow yang terjadi di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Data yang dianalisis merupakan data yang digunakan untuk mengetahui apakah bahasa lisan standar digunakan dalam acara bincang-bincang atau tidak dan apakah kesalahan yang ditemukan dalam acara bincang-bincang dipengaruhi oleh bahasa standar yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi fonetik tentang bunyi dan pengucapan bahasa Indonesia. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada teori analisis kesalahan seperti Corder, Selinker, dan Richards. Hal ini juga didasarkan pada teori-teori linguistik struktural seperti yang dielaborasi oleh Pike dan yang dikemukakan oleh Kridalaksana dalam menganalisis kesalahan bunyi bahasa Indonesia. Rancangan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan analisis kesalahan dalam menganalisis data kesalahan yang dikumpulkan dari survei penonton talk show di setiap stasiun televisi di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk menganalisis kesalahan bunyi vokal, diftong, dan konsonan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan yang ditemukan pada data adalah sebagai berikut kesalahan antarbahasa seperti hypercorrection untuk menghindari penggunaan bahasa standar yang disebabkan oleh bahasa ibu seperti bahasa Jawa, Batak, dan bahasa gaul. Kata-kata Kunci fonetik, pengucapan, analisis kesalahan Abstract This study discusses the analysis of pronunciation errors in talk shows that occur in several television stations in Indonesia. The data collected for analysis was to see whether the standard spoken language used in talk shows or not when Speaking in talk shows and the errors found in their talk shows were constructed by their language standards. This research is a phonetic study of Indonesian sounds and pronunciation only. The theoretical framework used in this study is based on error analysis theory such as Corder, Selinker and Richards. It is also based on structural linguistic theories such as those elaborated by Pike and those put forward by Kridalaksana in analyzing sound errors in Indonesian. The design of the research method used in this study is in accordance with the error analysis in analyzing the error data collected from the talk show audience survey at each television station in Indonesia. This research was conducted to analyze the errors of vowels, diphtongs, and consonants. This investigation shows that the errors found in the data are as follows inter-language errors such as hypercorrection to take advantage of the use of standard languages caused by mother tongues such as Javanese, Batak, and Slang. Keywords phonetics, pronunciation, error analysis How to Cite Erwina, Emmy. 2020. Analisis Kesalahan Pengucapan Pada Program Talk Show Di Televisi Indonesia. Ranah Jurnal Kajian Bahasa. 92. 178—187. doi Naskah Diterima Tanggal 4 Maret 2020—Direvisi Akhir Tanggal 24 Oktober 2020—Disetujui Tanggal 20 November 2020 doi Emmy Erwina 179 PENDAHULUAN Masalah pengucapan merupakan masalah bahasa yang penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Permasalahan bahasa yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah masalah sebutan atau lafal, namun banyak masyarakat yang masih belum berani mempelajarinya secara mendalam karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasa daerahnya sendiri. Pengaruh bahasa asing, bahasa daerah atau dialek terhadap bahasa Indonesia terlihat pada beberapa acara bincang-bincang di setiap stasiun televisi di Indonesia, karena sifatnya yang audiovisual, televisi dapat menghadirkan acara musik, film, sinetron, variety show, reality show, serta acara lainnya dengan melibatkan para selebritis idola khalayak Abdullah Aceng & Lilis Puspitasari, 2018 102. Selain itu juga dipengaruhi oleh beberapa bahasa asing seperti Belanda, Inggris, Arab, dan Sansekerta. Pengaruh bahasa asing, bahasa daerah atau dialek terhadap bahasa Indonesia dapat dilihat pada banyak lafaz atau sebutan. Pengaruh ini menyebabkan kurangnya keseragaman dalam penunjukan. Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab hingga saat ini di Indonesia belum ada pedoman penunjukan standar untuk bahasa Indonesia. Hal ini mungkin juga berlaku karena Indonesia terdiri dari wilayah yang sangat luas dan memiliki ragam bahasa, sehingga sangat sulit untuk membakukan sebutan bahasa Indonesia atau memilih salah satu istilah bahasa daerah yang dapat dijadikan acuan standar bahasa Indonesia. Dengan kata lain, bahwa secara resmi tidak ada sebutan baku untuk bahasa Indonesia. Ketidakseragaman sebutan ini membingungkan masyarakat umum, misalnya para pemain talk show di beberapa stasiun televisi, pemirsa televisi, dan pendengar radio dalam membedakan antara bentuk standar dan nonstandar. Sebutan non-seragam Indonesia sering kali diterapkan dalam situasi formal. Situasi formal berarti situasi yang terjadi di tempat umum masyarakat umum, tidak tertutup, memiliki peraturan perundang-undangan dan mengikuti adat istiadat yang berlaku Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008 279—837. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai situasi dan kondisi, sedangkan bahasa Indonesia yang benar adalah yang sesuai dengan EYD Setiawati, Selis, 2016 45. Sebutan baku bahasa Indonesia ialah sebutan yang mengikut prinsip fonemik yang berdasarkan ejaan bahasa Indonesia, maksudnya sesuatu perkataan dilafazkan mengikut ejaan baku bahasa Indonesia atau menurut nilai bunyi huruf di dalam bahasa Indonesia. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam pengunaannya Jamilah, 2017 42. Hal ini dapat dilihat dalam contoh kata makan yang Analisis Kesalahan Pengucapan pada Program.... 180 diucapkan sebagai [mãkan] dan kata masalah yang diucapkan sebagai [mãsalah]. Bunyi yang digambarkan dengan huruf a haruslah diucapkan sebagai [a] dan jangan berubah menjadi [e], [ə], atau [ε]. Kemudian, bunyi [k] yang terdapat di tengah kata haruslah diucapkan secara jelas dan jangan diganti dengan bunyi glotis [ʔ], contohnya perkataan pendidikan’ jangan diucapkan sebagai [pəndidiʔkan] tetapi harus diucapkan sebagai [pəndidikan], dan perkataan 'kedudukan' jangan diucapkan sebagai [keduduʔkan] tetapi harus diucapkan sebagai [kədudukan], manakala perkataan seperti mendudukkan’ haruslah diucapkan sebagai [mənduduʔkan], dan perkataan meletakkan’ haruslah disebut sebagai [mələtaʔkan] jadi, k’ yang pertama diucapkan dengan bunyi glotis [ʔ] dan k’ yang kedua diucapkan secara jelas Prihadi, 2010 60. Oleh karena itu, penulisan karya-karya ilmiah, baik berupa buku-buku teks pelajaran, buku-buku ilmiah maupun karya tulis ilmiah lainnya menggunakan ragam baku tulis sebagai standar penulisannya Jamilah, 2017 42, misalnya, jika seseorang itu berasal dari suku Jawa, maka sebutan perkataan mereka dipengaruhi oleh bahasa Jawa, jika suku Batak dipengaruhi oleh bahasa Batak, suku Sunda dipengaruhi oleh bahasa Sunda, dan orang Jakarta dipengaruhi oleh dialek Betawi. Penelitian ini membahas tentang analisis dan perbandingan pengucapan yang berbeda pada ucapan yang dihasilkan oleh pembawa acara dan bintang tamu yang berdiskusi di stasiun televisi di Indonesia dalam situasi yang formal. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dari perbedaan pengucapan. Signifikasi penelitian ini ialah untuk menjelaskan bagaimana petunjuk pelafalan yang benar serta untuk memberikan kontribusi kepada para praktisi agar dapat mengimplementasikannya pada pengucapan yang sudah sesuai dengan standar. LANDASAN TEORI Penulis mendapati bahwa teori struktural sesuai dengan kajian yang dilakukan oleh penulis, yaitu mengenai kajian sebutan kata baku bahasa Indonesia. Pendekatan struktural ialah langkah-langkah tertentu dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian bahasa, kita harus melakukan penelitian fonologi terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian morfologi dan penelitian sintaksis. Penelitian fonologi akan menjadi landasan untuk penelitian morfologi dan penelitian morfologi akan menjadi landasan untuk penelitian sintaksis Ismawati, 2011 38. Pendekatan struktural berfokus pada pencarian bentuk form dari gejala yang ada. Berdasarkan gejala itu, disusunlah suatu sistem yang dapat menjelaskan keberadaan bentuk tersebut. Dalam penelitian bahasa, bentuk itu dapat berupa sistem bunyi bahasa fonetik, Emmy Erwina 181 fonem, morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat Setiawan, 2016. Uraian deskriptif yang diterapkan oleh pengkaji untuk analisis kajian ini ialah aliran struktural Amerika. Aliran ini mewarisi ide dari para ahli antropologi budaya seperti Boas, ahli bahasa Bloomfield, serta ahli bahasa dan antropologi budaya. Teori yang juga digunakan dalam penelitian ini, yaitu kutipan wawasannya “One of the significant units of sounds arrived at for a particular language by the analytical... a constrastive sound unit”. Oleh karena itu, dapat dikatakan fonem sebagai satuan terkecil dapat diwujudkan dalam satuan kontras, yaitu pasangan minimal, misalnya, [čari] mencari dan [jari] jari tangan atau kaki. Dengan melakukan segmentasi pasangan minimal dan struktur fonemik dalam tuturan para informan dengan menggunakan analisis kesalahan-kesalahan atau perbedaan pengucapan dapat dipertanggungjawabkan, jika tidak maka akan terjadi perubahan dan pergeseran makna dari kata tersebut. Perubahan makna tersebut merupakan makna yang sebenarnya mengalami perubahan, sedangkan untuk pergeseran makna merupakan gejala penyempitan, perluasan, pengonotasian, dan pengasosiasian makna apakah makna tersebut masih layak di dalam satu medan makna S. Ramadan & Y. Mulyati, 2020 4. Terdapat berbagai kecenderungan yang kuat bahwa penggunaan Bahasa Indonesia mengalami pergeseran yang disebabkan oleh Bahasa Asing, seperti di media televisi, koran, baliho, iklan dan lain-lain. Kepedulian pengguna bahasa Indonesia sangat ada kaitannya dengan kualitas pengguna bahasa Indonesia tersebut R. Rahayu, 2017 32. Kualitas berbahasa seseorang dilihat dari kuantitas kosakata yang dikuasainya. Semakin banyak kosakata yang dikuasainya, maka kualitas berbahasanya pun semakin baik H. Astuti, N. Sukmawati, 2019 127. Namun, semakin banyak kosakata yang dimiliki seseorang, kesalahan berbahasanya pun tetap tak mungkin dihindari. Kesalahan berbahasa ialah penyimpangan dari kaidah-kaidah berbahasa, baik dari segi lisan maupun tulisan. Jadi, analisis kesalahan berbahasa ialah analisis tentang penyimpangan berbahasa yang terjadi di dalam proses mempelajari bahasa. Akan tetapi, kesalahan berbahasa mesti dibedakan dengan kekeliruan, sehingga dapat diketahui bahwa kekeliruan ialah berbahasa yang tidak sistematis yang mengacu kepada gagalnya penampilan performance, sedangkan kesalahan ialah penyimpangan yang sistematis yang berhubungan dengan gagalnya kemampuan atau kompeten competence Azmi, 2011 42. Kesalahan itu dapat dibedakan kepada dua, yaitu kesalahan antarbahasa interlanguage errors dan kesalahan intrabahasa intralingual errors. Penyebab kesalahan intrabahasa itu dapat dibagi menjadi 1 pengitlakan over-generalizations, 2 tidak mengetahui pembatasan Analisis Kesalahan Pengucapan pada Program.... 182 rumus ignorance of rule restrictions, 3 penerapan rumus yang kurang sempurnaincomplete application of rules, dan 4 membuat kesimpulan yang salah mengenai konsep false concepts hypothesized. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan survei yang diisi oleh beberapa orang terkait dengan kesalahan pengucapan kata yang dilakukan informan pembawa acara, narasumber, dan panitia pada acara talk show di stasiun televisi di Indonesia. Metode pemilihan data dilihat berdasarkan jenis stasiun televisi yang dipilih, tingkat pengetahuan terhadap acara televisi yang dipilih, acara talk show yang pernah dilihat/ ditonton, serta pengaruh kesalahan pengucapan kata yang dilakukan informan yang mengakibatkan acara talk show sering berulang. Menurut Solimun 2017 21, arti penting pencatatan adalah agar data dapat dianalisis berulang kali sehingga mendapatkan data yang valid. Untuk melakukan penelitian ini, peneliti menyebar kuisioner yang berbentuk survei kepada masyarakat dengan menggunakan google form. Peneliti kemudian mengambil data dengan method average metode rata-rata dari hasil survei tersebut. Peneliti dapat menghitung berapa tingkat error dalam pengucapan kata di acara talk show di beberapa stasiun televisi di Indonesia. Penelitian ini sangat dibutuhkan bukan hanya untuk mengukur pengucapan speeling dalam acara talk show, tetapi juga dapat memperbaiki pengucapan speeling dari acara talk show yang ada di Indonesia. Tanpa menggunakan survei dan method average metode rata-rata, sulit untuk memastikan apakah data tersebut sudah benar dan lengkap. PEMBAHASAN Survei diisi oleh 90 responden, dengan rincian usia sebagai berikut, 73,3% berusia lebih dari 20 tahun, 17,8% berusia kurang dari 20 tahun, dan 8,9% berusia 20 tahun. Hal ini berarti minat responden untuk melihat dan menganalisis kesalahan pengucapan error spelling pada acara talk show di beberapa stasiun televisi rata-rata berasal dari usia lebih dari 20 tahun. Berdasarkan data survei terkait dengan penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 51,1% responden berjenis kelamin laki-laki dan 48,9% berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa persentase responden yang berjenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang berjenis kelamin perempuan dalam melihat dan Emmy Erwina 183 menganalisis kesalahan pengucapan error spelling kata pada acara talk show di beberapa stasiun televisi. Berdasarkan diagram survei di atas, di antara 90 responden yang mengisi survei semua berasal dari 11 provinsi dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Persentase tertinggi atas responden yang mengisi survei berasal dari provinsi Sumatra Utara, yaitu sekitar 84,1%. Sisanya memiliki presentasi rtable = 0,250 and value of Sig ρttable = 1,645 dan value of Sig ρrtabel = 0,250 dan nilai Sig ρttabel = 1,645 dan nilai Sig ρJamilah JamilahTulisan ini mendeskripsikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan bagaimana penggunaan bahasa baku dalam karya ilmiah mahasiswa. Ragam bahasa yang digunakan pada karya ilmiah adalah ragam baku tulis. Bahasa baku adalah bahasa standar yang digunakan dalam kalangan ilmiah. Ada kaidah-kaidah yang perlu dipenuhi dalam penulisan tersebut, yaitu sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan EYD.Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penulisan huruf kapital dan miring, bentuk penyerapan kata asing, penggunaan kata yang tidak tepat situasinya, pemotongan kata, dan kata-kata mubazir. Ratih RahayuThe purpose of this research is to describe the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian and foreign languages, to explain the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region towards languages and the use of Indonesian and foreign languages, and to explain the influence of the knowledge of the legislation toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region. The result shows that the knowledge of culinary entrepreneurs in Pringsewu region about legislation relating to languages and the use of Indonesian, local and foreign languages can be considered low because almost all of the respondents have a limited knowledge of the legislation being asked in the questions;the language attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region can be considered good because the average value has reached influenceof the knowledge of the legislation relating to languages toward the attitudes of culinary entrepreneurs in Pringsewu region is not considered significant which is only 1%. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, menjelaskan sikap pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu terhadap bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing, dan menjelaskan pengaruh pengetahuan tentang peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu. Hasil Penelitian menunjukkan pengetahuan pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bahasa dan penggunaan bahasa Indonesia, daerah dan asing dapat dikategorikan kurang karena hampir semua responden tidak mengetahui peraturan perundang-undangan yang ditanyakan, sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu dapat dikategorikan baik karena nilai rata-ratanya sudah mencapai 84,36%, pengaruh pengetahuan mengenai peraturan kebahasaan terhadap sikap bahasa pengusaha kuliner di Kabupaten Pringsewu tidak signifikan karena hanya sebesar 1%. Ahmad Sanusi AzmiSahih al-Bukhari adalah antara kitab utama yang mengumpulkan hadith-hadith sahih. Perkara ini telah disepakati oleh para ulama. Pelbagai khidmat dan usaha telah dilakukan oleh para ulama dalam mengembangkan serta menyebarkan isi kandungannya untuk kepentingan umat. Antara usaha-usaha tersebut seperti mensyarahkan hadith-hadith di dalamnya, memperincikan perawi-perawi, meringkaskan kitabnya serta menjelaskan kekeliruan dan kritikan yang dilemparkan terhadapnya. Kajian ini cuba mengupas kekeliruan serta kritikan yang pernah dilemparkan ke atasnya di samping mengemukakan penyelesaian dan jawapan berdasarkan sumber-sumber yang dihasilkan oleh para ulama dahulu sehingga kini. Kritikan adalah lebih menjurus kepada sanad dan matan dalam Sahih Bukhari. Maklumat dikumpul daripada kitab-kitab mustalah serta syarah-syarah hadith yang ditulis oleh ulama silam dan kemudian dianalisa untuk mencari punca dan penyelesaiannya. Kajian ini mendapati kedudukan Sahih al-Bukhari sebagai sumber asasi bagi hadith sahih tidak tergugat kerana semua kekeliruan dan kritikan telah IsmawatiN. HindartoLatar belakang masalah dalam penelitian ini adalah masih rendahnya ketuntasan belajar klasikal siswa kelas X-3 SMA N 1 Bojayaitu sebesar 57,5%. Hal ini disebabkan kurangnya aktivitas siswa saat mengikuti pelajaran sehingga siswa menjadi pasif, gurumasih menjadi pemeran utama dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran yang sesuai dan tepat diharapkan dapatmemotivasi siswa sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika. Salah satu strategi dalam pembelajaran adalahmenerapkan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Boja. Objek penelitian ini adalah kelas X-3 tahunpelajaran 2009/2010. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu metode tes, lembar observasi dan dokumentasi yangkemudian di uji dengan t-test untuk menguji peningkatan hasil belajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif denganpendekatan struktural TSTS. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajarankooperatif dengan pendekatan struktural TSTS meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X-3 SMA N 1 Boja. Dari penelitian inidapat disarankan bahwa model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktural TSTS dapat dijadikan alternatif untukmeningkatkan hasil belajar The background of this research was low classical learning mastery of SMA N 1 Boja student-grade X-3 due to inactive studentduring the lesson. In order to motivate student to be active in following the lesson and increase students' learning achievement, acooperative learning strategy was applied in the lesson, with the object of X-3 class. The data collection methods used in theresearch were test, observation sheet documentation method, while the increase of learning achievement was tested using conclusion, the application of cooperative learning model with structural TSTS approach can increase the learning achievementof X-3 class of SMA N 1 Boja. It was suggested to use cooperative learning model with structural TSTS approach as an alternativeway to increase students' learning cooperative learning model; structural TSTS approach; learning achievementPenggunaan Bahasa Indonesia Baku dalam Tesis Mahasiswa S-2Abdul FaisalJalilFaisal, Abdul Jalil. 2008. Penggunaan Bahasa Indonesia Baku dalam Tesis Mahasiswa S-2. Linguistik Indonesia. Vol. Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Lanjutan Pertama KemendiknasPrihadiPrihadi. 2010. Media Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Lanjutan Pertama Kemendiknas.
analisis kesalahan berbahasa pada iklan televisi